Pertolongan Pertama Pada Persalinan Darurat

14.22.00

Pertolongan Pertama Pada 
Persalinan Darurat



Peristiwa persalinan harus dipandang sebagai proses fisiologik yang normal dimana sebagian besar ibu akan mengalaminya tanpa komplikasi.Kadangkala ketika di dalam perjalanan menuju sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit), proses persalinan telah berlangsung atau bisa juga terjadi ibu tersebut merasa belum waktunya untuk bersalin tetapi tanda-tanda persalinan sudah datang dengan tiba-tiba.Hal ini adalah wajar karena tidak tertutup kemungkinan persalinan bisa maju dari waktu yang diperkirakan.
Bisa dibayangkan betapa cemas dan gugupnya bagi orang awam yang hendak menolong persalinan tersebut, selain karena rasa tegang juga adanya rasa tidak percaya diri untuk membantu persalinan.
Bagi penolong persalinan dibutuhkan ketenangan karena selain sebagai support moril, juga akan membuat ibu yang hendak bersalin menjadi merasa nyaman dan bagi si penolong menjadi lebih bisa berpikir dengan logis.

Hal-hal yang harus ditanyakan penolong sebelum menolong persalinan kepada ibu yang hendak bersalin adalah :
  1. Adakah orang yang menemaninya atau sendirian, biasanya dia tidak sendirian karena pada saat ini seorang ibu yang hendak bersalin selalu ada yang mendampinginya atau istilahnya suami SIAGA .
  2. Apakah sudah merasakan tanda-tanda untuk persalinan, yaitu sudah keluar lendir darah, adanya mulas yang adekuat atau terus-menerus (terjadinya kontraksi yang kuat dengan jarak waktu setiap 2-3 menit sekali, kontraksi juga bisa dirasakan oleh penolong dengan meletakan telapak tangannya di atas perut ibu dan jika dinding perut ibu menegang itu adalah tanda adanya kontraksi), serta keluarnya air ketuban. Kadang tanda-tanda keluarnya lendir darah dan air ketuban belum ada, tapi mulas sudah ada. Mungkin juga tak terasa mulas, tapi hanya terasa tegang di daerah bawah pusar disertai penekanan di daerah bawah dan pinggang, bisa jadi kepala sudah turun. Akibat adanya dorongan kepala bayi ke anus, maka ibu akan merasakan dorongan ingin mengejan atau ingin buang air besar.
  3. Apakah ini persalinan untuk yang pertama kali atau sudah pernah mengalami persalinan sebelumnya. Karena bagi ibu yang telah mengalami persalinan sebelumnya secara otomatis akan mengerti bagaimana proses persalinan dan ini lebih memudahkan bagi penolong. Sedangkan bagi ibu yang baru pertama kali mengalami persalinan, peranan penolong sangat penting dalam membantunya menjalani persalinan tersebut.

Lakukanlah bimbingan bila ibu sudah merasakan adanya dorongan mengejan atau mulasnya sudah tak tahan, padahal belum tiba di sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit). Berikan dukungan moril pada ibu yang hendak bersalin . Bimbinglah ibu untuk menarik napas panjang. Jangan mengejan dulu. Tujuannya untuk mencegah jangan sampai terjadi kebrojolan. Sebab, dengan menarik napas panjang, maka diharapkan rasa mengejannya berkurang. Jadi, jangan malah membimbing ibu mengejan.Kaki pun sebaiknya jangan dibuka, tapi ditutup.Selanjutnya, sambil terus meminta ibu menarik napas panjang, segera bawa ibu ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat.

Namun bila ternyata dorongan mengejan sudah tak bisa ditahan dan pembukaan sudah lengkap, maka mau tak mau penolong harus bisa memberikan pertolongan pertama dalam persalinan. Jika ternyata kepala bayi sudah terlanjur nongol di lubang vagina, justru hal ini tak boleh ditahan-tahan. Tak perlu lagi diupayakan untuk menahannya atau menunda kelahiran. Intinya, kalau ibu sudah tak tahan untuk mengejan, lihat apakah pembukaannya sudah lengkap atau belum. Kalau pembukaan sudah lengkap, kepala sudah terlihat atau malah kadangkala kepala bayinya sudah nongol, bila mulasnya sudah datang, maka bisa langsung mengejan (mengejannya bersamaan ketika mulasnya datang, jangan mengejan sebelum mulasnya datang). Biar seluruh badan bayi keluar sekalian. Sebab, kalau kepala bayi sudah nongol, tapi ibu justru menahannya keluar, bisa-bisa leher bayinya tercekik dan bayinya tak bisa ditolong.
Selama menolong persalinan akan terlihat cukup banyak darah, ini adalah normal. Selain itu akan terlihat banyak cairan yang keluar dari vagina, sebelum dan selama persalinan, hal ini juga normal.Usahakan selama proses persalinan ibu ditempatkan pada tempat yang luas dan tenang. Berilah alas agar cairan yang keluar tidak mengalir kemana-mana, juga agar ibu bisa berbaring di tempat yang bersih.
Jika tidak didapatkan ruangan yang luas (misalnya di dalam mobil), usahakan tempat tersebut tetap tenang dan berilah alas sebagai tempat ibu melahirkan (alas bisa berupa plastik, kertas, baju / jaket, dan lain sebagainya asal bersih). 

Kalau ibu sudah siap untuk persalinan, posisikan dalam posisi tidur, kepala membungkuk ke arah perut sedangkan kaki di angkat terbuka dan ditekuk dengan paha mengarah ke bagian perut (tangan ibu memegang lutut dengan cara tangan melingkar di bagian belakang lutut), penolong persalinan memimpin persalinan dengan posisi penolong persalinan berdiri atau jongkok di samping ibu. Penolong persalinan meminta ibu untuk bernapas pendek untuk mengurangi rasa sakit persalinan, ketika kontraksi datang (ditandai dengan mulas yang terus menerus) minta ibu untuk mengejan selama ibu merasakan mulas. Selama mengejan jangan bernapas pendek, minta ibu untuk mengambil napas panjang dan napas dikeluarkan bersamaan dengan mengejan.Biasanya kalau kepala bayi sudah terlihat atau nongol, proses persalinan tidak memakan waktu yang lama. 

Telapak tangan kanan penolong persalinan diletakan di atas kepala janin. Tujuannya, untuk membantu kepala agar tak jatuh ke lantai, juga untuk mencegah supaya kepala tak mendobrak vagina yang akan membuatnya robek tak beraturan. Kalau bisa, selama kepala meluncur keluar, telapak tangan kiri penolong juga menyokong daerah di sekitar perineum (antara vagina dan anus). Maksudnya, agar vagina tidak robek hingga ke anus.

Selanjutnya, penolong persalinan terus memegangi kepala si bayi hingga badannya keluar semua. Biarkan jika tali pusat ikut keluar. Kalau tubuh bayi tak bisa keluar, ya, mau tak mau harus ditarik karena keadaan separuh keluar tidak bisa dibiarkan terus, bisa-bisa si bayi tercekik.
Jaga jangan sampai kepala bayi meluncur keluar dan terkena benturan. Kalau kepala bayi mengenai lantai hingga terjadi benturan, kepalanya bisa trauma atau terjadi perdarahan otak.
Kalau bayi sudah keluar, letakkan bayi di perut ibu dan biarkan ibu tetap pada posisinya. Jika di dalam mobil mintalah sopir untuk segera melarikan mobil ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat.

Biarkan saja plasenta dan tali pusatnya. Jangan ditarik-tarik atau dicoba dipotong memakai sembarangan benda, seperti pisau atau gunting. Karena dikhawatirkan terjadi infeksi pada bayi. Bila takut putus, ikatlah tali pusat kira-kira 5-10 cm di atas pusar bayi dengan benang.
Pokoknya, jaga jangan sampai tali pusat terputus. Sebab, putusnya tali pusat bisa mengakibatkan perdarahan pada ibu. Memang darah tak akan sampai pada bayi. Secara alamiah begitu bayi lahir, maka saluran yang berhubungan dengan tali pusat akan tertutup.Tetapi bisa saja terjadi sebaliknya, bila ternyata pada bayi terjadi kelainan atau tak terjadi penutupan, maka perdarahan pun bisa terjadi pada bayi. Karena itu yang terbaik adalah biarkan saja sampai paramedis datang atau segera larikan ibu dan bayi ke rumah sakit.”
Yang paling penting justru ibu dijaga jangan sampai terjadi perdarahan. Kalau tak ada luka jalan lahir, maka perdarahan biasanya berhenti, menunggu ari-ari keluar. Kalau ari-ari masih menempel, berarti masih aman, tak akan terjadi perdarahan.
Namun demikian, tanpa pertolongan pihak medis, persalinan kebrojolan mengakibatkan luka jalan lahir. Kalau kebrojolan biasanya robekan jalan lahir yang terjadi tak beraturan sehingga kemungkinan perdarahan sangat besar.Kalau sudah demikian, jangan tunggu risiko lebih berat, segera larikan ibu ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat.

Agar amannya ketika hendak menolong persalinan sebaiknya terlebih dahulu segera menelepon ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat agar tenaga medis bisa segera datang ke lokasi (atau bisa juga meminta bantuan dengan menelepon ke 911 atau 118).

Saat bayi sudah keluar, jangan dibiarkan telanjang begitu saja. Bayi perlu segera diselimuti dengan selimut hangat atau handuk tebal atau baju / jaket. Karena kalau tidak diselimuti bayi mudah mengalami kedinginan / hipotermi atau suhu tubuhnya turun di bawah normal. Kalau ada lampu, dekatkan lampu ke tubuhnya. Lampu dan selimut berguna untuk menjaga kehangatan. Sebab, pada bayi yang kelewat kedinginan akan terjadi pengerasan di kulitnya. Bila terjadi demikian biasanya bayi tak mungkin bisa tertolong lagi.”
Untuk membersihkan mulut dan hidung bayi dari lendir, harus hati-hati. Sebaiknya dibersihkan agar jalan napas bayi jadi bersih. Namun bila tak punya alat penyedot, sebaiknya biarkan saja. Kalau berani, bisa saja mulutnya dibersihkan dengan tangan yang dilapisi kasa steril. Jangan mempergunakan kapas atau tisu karena justru bisa menyumbat jalan napas si bayi.
Tapi, usapan mengerok lendir di mulut harus dilakukan secara lembut, hal ini tidak dianjurkan dilakukan oleh orang yang tak mengerti. Karena kalau salah bisa menyebabkan pangkal lidah bisa rusak. Pokoknya, kalau bayi sudah nangis, itu sudah aman, tanpa dibersihkan pun tak apa-apa. Lagi pula, berdasarkan pengalaman, peristiwa ini biasanya tak lama, tenaga medis akan segera datang sehingga bisa segera menolong bayinya.

Author by : Penghuni Terakhir Dunia

Referensi :
http://www.hypno-birthing.web.id/?p=621
http://www.health.harvard.edu/fhg/firstaid/birth.shtml
http://jiankang.zaobao.com/jibing/jijiu/1289.html
http://www.ajog.org/
Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse, Spong, Williams Obstetrics, 23nd ed., Mc Grawhill, 2010.

You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah berkunjung di Blog novawijaya.com jangan lupa meninggalkan jejak kamu disini ya :) Happy Blogging

Kirim Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Community

Blogger Bojonegoro

Member Of

Emak2 Blogger