Jangan Egois, Jangan Golput !!

11.27.00



Golput (golongan putih), kata para pelaku politik praktis, adalan sebuah pilihan yang tidak berdasarkan pada kecintaan terhadap Indonesia yang berdiri lantaran politik. Golput menunjukkan sikap apatis dan pesimis terhadap proses berkebangsaan. Dan seterusnya. Intinya, golput bukanlah pilihan tepat bagi setiap warga negara yang baik.


Setujukah? Silakan saja, setuju ataukah tidak setuju. Yang jelas, tidak ada hadiah bagi orang yang setuju ataupun tidak setuju.

Persoalan yang sering mengemuka adalah ‘pertarungan’ antar partai. Saling menjelekkan atau menjatuhkan merupakan hal yang paling depan. Merasa kader atau partai sendiri paling Indonesia, paling suci, paling dahsyat, lantas menuding kader atau partai lain paling korup, rusak, busuk, bobrok, dan lain sebagainya.

Pertarungan antar partai merupakan tindakan yang tidak ber-Pancasila, khususnya sila ke-3, “Persatuan Indonesia”. Ironisnya tindakan ini dilakukan oleh mereka yang paling merasa sebagai warga negara yang baik. Tentu saja hal ironis tersebut menunjukkan bahwa kefanatikan selalu disertai kemunafikan.


Gunakan hak suara dengan datang ke TPS. Jangan sampai surat suara yang kosong justru dimanfaatkan oknum-oknum untuk berbuat curang.
Golput (golongan putih), kata para pelaku politik praktis, adalan sebuah pilihan yang tidak berdasarkan pada kecintaan terhadap Indonesia yang berdiri lantaran politik. Golput menunjukkan sikap apatis dan pesimis terhadap proses berkebangsaan. Dan seterusnya. Intinya, golput bukanlah pilihan tepat bagi setiap warga negara yang baik.


"Suka tidak suka ini adalah hajatan 5 tahun sekali. Bila kita Golput, maka marak protensi jual beli suara. Surat suara yang tidak dicoblos berprotensi disalahgunakan,


Menggunakan hak suara dalam pemilu itu penting, karena satu suara yang kita berikan akan menentukan pemimpin Indonesia lima tahun ke depan. Jadi jangan golput (golongan putih), kalau kita golput, kita tidak bisa protes.

Ngomongin soal memilih presiden, Indonesia hari ini butuh pemimpin yang jujur, adil, bijak, cerdas, dan mampu kerja cepat. Paling tidak, pada pilpres nanti kita harus cari capres yang memiliki kriteria di atas.



Jangan Golput…, karena diam saja -berpangku tangan- terhadap kenyataan seperti itu adalah syaithanul akhras. Berkata Imam Abu Ali Ad-Daqaq, “Saakit ‘anil haq syaithanul akhras – Diam saja tidak menyampaikan kebenaran adalah setan bisu.”

Jangan Golput …, karena kekecewaan kita  terhadap Presiden yang lalu, atau capres-capres yang ada saat ini, lalu  kita apatis, juga tidak menyelesaikan masalah.  Sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala, bukan presiden dan calon presiden. Toh, jika  kitapun menjadi seperti mereka, belum tentu  bisa lebih baik dari mereka, dan juga bisa bikin kecewa orang lain.

Jangan Golput…, karena keharaman Pemilu masih diperselisihkan dan masuk dalam perselisihan mu’tabar para ulama kontemporer. Sementara bersatu-padu melawan musuh adalah kewajiban yang pasti tanpa diperselisihkan lagi. Seharusnya, kita lebih mementingkan kewajiban yang pasti, dibanding perselisihan tersebut.

Jangan Golput…, karena anggapan ‘semua partai sama -tidak ada yang amanah, rakus kekuasaan-,’ merupakan tuduhan berat dan emosional, yang mesti dibuktikan oleh penuduhnya. Apalagi jika anggapan itu hanyalah ikut-ikutan semata, atau penggiringan opini media terhadap politisi muslim, yang umumnya memang media-media itu berdiri di atas kaki para sekuleris dan kapitalis.

Jangan Golput….,  karena  seburuk apapun calon-calon yang ada, kita masih berharap pada yang terbaik dan mendingan di antara yang  buruk itu. semoga bisa lebih baik dari sebelumnya. Wallahu A’lam.

You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah berkunjung di Blog novawijaya.com jangan lupa meninggalkan jejak kamu disini ya :) Happy Blogging

Kirim Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Community

Blogger Bojonegoro

Member Of

Emak2 Blogger