Heartbeat

02.38.00


Ini bukanlah balasan syair-syair indah darimu, ini hanya sebuah ungkapan yang mungkin hanya aku dan tuhan yang tahu. Melalui tulisan ini, aku harap tuan tahu bahwa hati ini telah memilihmu.

Suatu siang di pertengahan februari tahun 2015, awal mula aku mengenalmu.

Pernahkah kalian merasa senang saat melihat orang lain tersenyum?

Aku pernah. Seperti terkena addict, love at the first sight atau apapun itu namanya. Ekspresi tenang dan menyenangkannya saat menatapku berbeda seperti lelaki biasanya. Aku tak pernah ingin tau kehidupan orang di sekitarku sebelumnya, tapi begitu mendengar seseorang mengagung-agungkan namanya, seperti sebuah dorongan lebih untuk mendengarnya.

Sesaat aku terkesima dan tersenyum mendengarnya :) kekaguman itu semakin bertambah ketika dengan beraninya dia mengambil sebuah tanggung jawab besar meneruskan perjuangan teman yang mungkin belum di kenalnya saat itu untuk memimpin jalannya sebuah kegiatan. Beribu terima kasih selalu ku ucapkan dalam hati saat itu di tengah hampir di batalkannya kegiatan yang di bangun dengan susah payahnya.

Tuan, aku tak berani menggodamu kala itu. Karena aku tau hatimu telah di penuhi oleh namanya. Binar matamu selalu bersinar saat menatapnya, dan aku hanya bisa ikut tersenyum ketika melihat ketulusan cinta yang kau bangun lewat sorot matamu untuknya.
Kau tau, akupun tak tau apa yang aku rasakan saat itu. Ada rasa senang dan juga sedih. Senang bisa melihat ketulusan cinta lagi, dan sedih karena saat itu  aku sadar bahwa aku harus mengalihkan perasaanku ini.

Aku tak pernah mengikuti lagi perkembanganmu saat itu, hingga tak sengaja mendengar celotehan teman-teman tentang kisah cintamu dengan wanita impianmu. Aku meringis, seperti terkena tusukan jarum di dalam hatiku. Itu ga adil, kenapa aku merasakan sakit dan merasakan perih di mataku?

Kita tak pernah dekat sedekat kedekatanmu dengan sahabat-sahabat perempuanmu, aku mendekatimu dengan caraku. Karena aku sadar, tidak mudah memasuki hati seseorang yang hanya memuja 1 wanita dalam hatinya, saat itu.

Tuan..

Aku sudah mencoba mengalihkan perasaanku waktu itu kepada sosok lain, tapi aku tak bisa, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri dan aku tak sanggup menerima kenyataan yang saat itu tak ingin ku dengar. Karena aku tau, mengumpulkan serpihan hati yang retak tidaklah mudah. Satu tahun lebih aku mengenalmu dan hatimu cukup tangguh untuk mempertahankan satu nama itu.

Tuan..

Apa kau tak bisa mengartikan lebih tatapan mataku? Semakin kesini aku semakin terjatuh oleh pesonamu. Apa sebenarnya yang kau lakukan padaku? Kau bumbui apa makananku? Atau jangan-jangan kau mencampur sesuatu dalam minumanku? Ah rasanya tidak. Sepertinya akulah yang ingin terjebak dalam suasana ini sendirian.
Tuan...

Kau tau? Aku begitu sangat cemburu melihat kedekatanmu dengan wanita-wanita di sekelilingmu. Aku ingin marah! Tapi aku tak punya hak akan hal itu, kau bukan milikku dan aku tak berhak mengatur siapapun yang boleh dekat dengan dirimu. Apa sebenarnya yang terjadi padaku?

Aku tak tau, kemana rasa ini akan berlabuh. Aku tak memulainya, dan tak merencanakannya. Rasa itu hadir sebagai pelengkap kekosongan jiwa. Hatiku memilihmu, tuan.

Saat ini, aku semakin terjatuh pada rasa yang aku cipta, kau seperti penerang di saat aku menciptakan keyakinan kegelapan akan cinta. Kau tau tuan,  aku selalu memeluk tubuhku dengan tangan dan lututku sendiri ketika sedang ada masalah selama ini, dan saat ini aku membutuhkanmu untuk menggantikannya. Tarik aku dari zona nyaman kesendirian yang selama ini kucipta. Aku membutuhkanmu tuan.
Tuan...

Apakah kau ingin tau rasa yang sering membuatku bingung itu? Aku sudah menemukan jawabannya. Jawaban dari sekian lamanya aku mencarinya. Aku termakan oleh sugestiku sendiri untuk tidak terlibat perasaan kepada lelaki dalam organisasi dan kegiatan yang aku ikuti belakangan ini.

Aku Jatuh Cinta Padamu...

Tatapanmu adalah embun di langit subuh
Bintang pun berkaca-kaca mengembun rindumu yang teduh
Namun udah tak ada merpati yang tak titipi rindu
Maka jantungku kuberi sayap, berdegub sendiri terbang menuju kamu
Rinduku kerap hinggap di ranting bulu matamu
Berlomba terjun ke dalam tatapanmu
Istirahatlah pemilik mata indah itu
Peluklah erat kata-kataku
Rasakan sentuhan lembut jemari hurufku mengungkap rindu
Tidurlah..
Mimpi indahlah dalam bait-bait yang kuselimutkan padamu

Cepat sembuh tuan, aku merindukanmu.
*Ferdiansyah*

You Might Also Like

4 komentar

  1. http://ferdiansyahsoenaryo.tumblr.com/post/143019272724/lintang-7

    BalasHapus
  2. Amiinn... Gek ndang rembug tuwo mbak.

    BalasHapus
  3. Ini tulisannya kok ngejleb-ngejleb dalem, namun manis ya? untuk seorang perempuan, mencintai segininya? luar biasa lelaki itu disana ya :')

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung di Blog novawijaya.com jangan lupa meninggalkan jejak kamu disini ya :) Happy Blogging

Kirim Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Community

Blogger Bojonegoro

Member Of

Emak2 Blogger